Revolusi Afektif: Menyiapkan Fondasi Peradaban Masa Depan


 

Polusi udara oleh asap pabrik. Foto: pexels

“Dunia di tahun 2050. Bayangkan udara saja sudah tidak bersahabat dengan kita. Suhu memanas ekstrem, sebagian orang terpaksa mendekam setiap hari di ruang ber-AC dengan handuk basah untuk menyeka wajah. Mata terus berair, dan kita hanya dapat tertidur setiap Subuh karena cuma itu waktu yang cukup sejuk.”

Demikian narasi pembuka video Najwa Shihab yang diunggah beberapa tahun lalu. Video itu pernah menjadi topik bahasan di Grup WhatApp (GWA) saya.

 “Ini sesuatu yang menakutkan, horor ... ngeri,” kata teman saya berkomentar. 

 “2050 berarti tidak lama lagi. Bagaimana nasib kita dan anak cucu kita nanti?” teman yang lain menimpali.

 “Tidak perlu khawatir Mas, setiap generasi punya cara mengatasi masalahnya sendiri,” komentar menghibur dari teman yang lain.

Memang, apa yang disampaikan mbak Nana itu sungguh mengkhawatirkan, ancaman terhadap kelangsungan hidup manusia di planet bumi ini nyata. Bagaimana tidak?

Masih kata Najwa dalam video itu, dua miliar orang bersiap menghadapi suhu yang bisa meroket hingga 60 °C. Tubuh manusia tidak akan bertahan lebih dari enam jam pada suhu seperti itu. Permukaan air laut naik drastis menimbulkan badai dan banjir.

Kota-kota di pantai tersapu menyebabkan ribuan orang meninggal dan jutaan mengungsi. Terjadi krisis pangan akibat populasi dunia meningkat hingga sembilan miliar padahal terjadi kekurangan air dan lahan yang bisa digarap.

Rekreasi di pantai. Foto: koleksi pribadi

Sementara itu hubungan internasional tidak lagi akur. Setiap negara menjadi egois dan saling curiga. Perdagangan global macet lantaran sumber daya setiap negara tidak lagi diekspor, untuk keperluannya sendiri.

“Ini bukan mengada-ada, mengkhayal atau menakut-nakuti. Gambaran tadi berbasis penelitian, data saintifik, hitungan skenario 2030, 2050, sampai 2100 per tahun semuanya ada,” tegas Najwa.

Saya tidak ikut nimbrung dalam pembicaraan di GWA itu. Saya hanya merenung dengan serius, hati kecil saya membenarkan apa yang ada di video itu. Bahkan menurutku itu baru satu persoalan yang mengancam kehidupan di bumi, masalah pemanasan global.

Masih ada persoalan lain yang tidak kalah seru. Sebut saja yang lainnya: kerusakan lingkungan akibat eksploitasi alam, pencemaran lingkungan dari limbah industri, dan perlombaan senjata pemusnah masal.

Dari merenung kian kemari saya sampai pada kesimpulan harus ada terobosan yang radikal demi menyelesaikan masalah-masalah yang serius itu. Taruhannya adalah eksistensi makhluk hidup di muka bumi ini, manusia, binatang, tumbuhan dan yang lainnya.

Apabila cara manusia mengelola dunia seperti sekarang ini terus dipertahankan, arahnya sudah pasti menuju jurang kehancuran. Persoalan diselesaikan dengan cara kalah-menang. Setiap negara mau menang sendiri, saling berebut hendak menguasai, mendominasi. Kalau begini caranya lantas apa bedanya dengan kehidupan di rimba; siapa yang kuat dia yang menang.

Ilustrasi raja rimba. Foto: pexels
Praktik mengelola dunia yang seperti ini harus segera ditinggalkan, dan dicari cara baru. Inilah yang saya maksud dengan “harus ada terobosan yang radikal”. Sebut saja sebuah revolusi. Gagasan ini diinspirasi oleh ayat tentang penciptaan manusia. Allah Swt berfirman di dalam Al-Qur’an, yang artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Apabila kita perhatikan polah tingkah manusia, hingga detik ini seolah membenarkan “protes” para malaikat itu. Bahwa manusia hanya membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Padahal jawaban “diplomatis” Tuhan di ayat tersebut menyiratkan makna tidak membenarkan tetapi juga tidak menafikan sangkaan para malaikat itu.

 Dan kenyataannya hingga hari ini membuktikan setengah makna itu benar adanya. Sedang setengahnya lagi menjadi “pe-er” manusia untuk membuktikan kemampuannya mewujudkan peradaban yang rahmatan lil’aalamin. Peradaban yang menebar kasih sayang kepada semua. Inilah sejatinya misi manusia sebagai khalifah di bumi itu.

Sudah puluhan ribu tahun perjalanan kehidupan umat manusia. Menurut Yuval Noah Harari dalam bukunya Sapiens, ada tiga revolusi penting yang telah membentuk jalannya sejarah, Revolusi Kognitif, Revolusi Pertanian, dan Revolusi Sain.

Revolusi Sain telah mengantarkan umat manusia ke zaman modern. Tidak bisa disangkal perannya dalam memajukan peradaban. Akan tetapi pada hari ini kemajuan itu nyaris menyentuh titik anti klimaksnya. Lebih dari sekedar setback yang terjadi malah terancamnya eksistensi kehidupan itu sendiri.

Senyatanya segala sepak terjang manusia pada level individu maupun kolektif, bila dirunut ke hulu akarnya ada pada mindset nya tentang bahagia. Karena semua urusan manusia ujung-ujungnya ingin bahagia tidak mau sengsara.

Oleh sebab selama ini prinsip yang dianut supaya bahagia harus memiliki sebanyak-banyaknya, menguasai seluas-luasnya, harus mendominasi dan menundukkan, maka akibatnya seperti kita saksikan hari ini, terjadi eksploitasi gila-gilaan terhadap sesama manusia dan segala sumber daya.

Terjadi persaingan, konflik bahkan perang dimana-mana. Dendam tak berkesudahan. Jadi hasilnya suatu peradaban yang ditegakkan dengan hukum rimba.

Padahal sejatinya bahagia tidak mesti diperoleh dengan cara demikian. Memberi atau berbagi bisa mendatangkan rasa bahagia. Saya percaya kita pernah merasakan hal itu. Atau pernah mendengar seperti cerita seorang miliarder dari Nigeria, Femi Otedola.

Femi Otedola telah melalui empat tahap kebahagiaan, yaitu: mengumpulkan kekayaan, mengumpulkan barang berharga, mendapatkan proyek besar, dan bahagia karena memberi atau berbagi. Dan hanya pada yang terakhir inilah dia benar-benar merasakan kebahagiaan itu, tidak pada tiga yang pertama. Dia menyebutnya sebagai kebahagiaan yang sejati.

Seyogianya mindset akan kebahagian seperti telah ditemukan oleh Femi ini ada pada setiap orang. Atau setidaknya dimulai dari para elit--- pemimpin atau pengambil keputusan yang berdampak luas.

Ilustrasi berbagi. Foto: pexels

Oleh karenanya manusia harus melakukan revolusi kerangka berpikirnya dalam memandang “kebahagiaan”. Bahwa kebahagiaan tidak harus diperoleh dengan cara memiliki atau menguasai sebanyak-banyaknya. Tetapi sebaliknya bahagia bisa diperoleh dengan cara berbagi atas dasar kasih sayang.

Revolusi ini menggenapkan Revolusi Kognitif 70 ribu tahun silam yang menjadikan manusia sebagai makhluk super cerdas. Revolusi ini karena berkaitan dengan masalah emosi atau perasaan maka dinamakan Revolusi Afektif. Bertujuan menjadikan manusia sebagai "makhluk baru", manusia ihsan ... bahkan super ihsan.

Para manusia yang cerdas sekaligus ihsan bukan hanya solusi problem 2050, melainkan menjadi fondasi bangunan peradaban masa depan yang penuh harmoni. Perdaban yang mengedepankan berbagi, empati, dan kasih- sayang.

Tidak seperti Revolusi Kognitif yang terjadi dengan sendirinya di luar kesadaran manusia, Revolusi Afektif ini terjadi atau tidaknya sepenuhnya tergantung kehendak dan perjuangan manusia.

Sebagai penutup, harapannya Revolusi itu akan bergulir dari sini, dari Indonesia. Mari kita mulai!

Antapani Kidul, 22 November 2025

Video Najwa Shihab (klik)





Posting Komentar untuk "Revolusi Afektif: Menyiapkan Fondasi Peradaban Masa Depan"